There was an error in this gadget

Sociable

Followers

Dengerin Lagu Sedih Bikin Tambah Depresi

Posted by wiby Thursday, August 27, 2009 0 comments


Mendengarkan musik ketika sedang sedih, stres atau depresi memang terasa cocok. Tapi sebaiknya Anda tidak mendengarkan lagu sedih atau sendu, karena menurut sebuah studi hal itu hanya akan memperparah kesedihan dan tingkat depresi Anda.

Para peneliti dari Lawson Health Research Institute, Ontario melihat adanya perubahan dalam otak ketika merespons sebuah musik. Adanya fakta ini bisa membuka satu cara baru untuk menangani orang-orang depresi.

Dalam studi tersebut, para responden diminta memilih lagu favoritnya, baik itu lagu gembira (tempo cepat) maupun lagu sedih (tempo lambat).

Dengan menggunakan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), dilakukan scanning pada bagian otak partisipan yang sedang mendengarkan musik selama kurang lebih 3 hingga 5 menit.

Partisipan yang diikutsertakan dalam studi ini terdiri dari mereka yang sedang dalam keadaan depresi dan juga mereka yang dalam keadaan normal (tidak depresi).

Hasil dari studi yang terdapat dalam Journal Neuro Report menunjukkan bahwa partisipan yang sedang depresi memiliki aktivitas otak yang lebih banyak ketika mendengarkan musik gembira daripada mereka yang mendengarkan musik sedih.

Musik sedih dan bertempo lambat hanya akan menambah keadaan sedih dan depresi seseorang. Meskipun lagu sedih memang cocok menemani seseorang yang sedang stres atau depresi karena temponya yang lambat, menyentuh, dan sesuai dengan keadaan mereka, tapi para peneliti menyarankan agar hal itu tidak dilakukan karena hanya akan memperburuk situasi dan menyebabkan penurunan aktivitas otak mereka.

Seperti dikutip dari MSN, Kamis (27/8/2009), Dr Elizabeth Osuch mengatakan bahwa dengan memberikan penanganan melalui bagian otak yang terkena depresi, para ahli bisa menemukan obat yang lebih cepat mengatasi depresi tanpa memerlukan efek kimiawi.

Sejak tahun 1996 dan 2005, obat antidepresi memang banyak dipakai masyarakat di Amerika bahkan jumlahnya meningkat dua kali lipat dan para psikiater pun lebih banyak kedatangan pasien yang stres dan depresi.

Daripada mendengarkan musik sedih yang hanya akan membuat Anda tambah sedih, kenapa tidak mencari hal lain yang bisa membuat Anda tenang atau ceria kembali seperti olahraga, bercerita dengan teman, menonton film kartun, membaca komik, atau mungkin mengambil air wudhu dan membaca Al-quran untuk menenangkan hati dan pikiran bagi mereka yang beragama muslim.

| edit post

Puasa Saat Hamil

Posted by wiby 0 comments

Sebagian besar wanita Muslim yang kebetulan sedang hamil di bulan ini tentunya pernah mempertanyakan masalah puasa, dalam kaitannya dengan kondisi kehamilannya. Sebenarnya boleh ga sih ibu hamil berpuasa? Apakah hal itu aman dilakukan?
Belum ada penelitian dalam skala besar yang menunjukkan dampak puasa terhadap kehamilan. Namun dari beberapa penelitian kecil, didapatkan hasil:

* Puasa ternyata tidak berdampak pada penurunan kesehatan bayi setelah lahir (diukur dari berat badan lahir dan APGAR score)

* Wanita hamil yang berpuasa, tidak terbukti melahirkan bayi dengan IQ yang lebih rendah dibanding dengan wanita hamil yang tidak berpuasa

* Dari pantauan selama kehamilan, tidak didapati perubahan yang secara signifikan membahayakan kesehatan ibu hamil

Lalu apa yang perlu diperhatikan jika seorang ibu hamil ingin berpuasa?Wannabe-moms yang ingin berpuasa, sebaiknya terlebih dahulu membuat rencana puasa tersebut, dan mengonsultasikannya dengan dokter kandungannya.

Karena pada dasarnya, yang benar-benar tahu tentang kondisi kesehatan seorang ibu hamil adalah dirinya sendiri (dan juga dokter yang memeriksanya tentunya). Beberapa poin penting yang perlu dicatat adalah:

* Jangan pernah memaksakan diri berpuasa, apalagi jika ibu hamil didiagnosa memiliki penyakit kronis atau yang dapat membahayakan kesehatan kehamilan dan janinnya.

* Perhatikan asupan makanan (diet) pada saat berpuasa, karena Anda perlu untuk memodifikasinya pada saat sahur, berbuka, dan mungkin sebelum tidur.

* Buatlah catatan diet Anda selama berpuasa. Hal ini penting untuk memonitor cakupan gizi untuk kehamilan terpenuhi dengan baik. Konsultasikan hal ini dengan dokter Anda.

* Pilihlah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks (gandum, sereal) dan juga sayuran dan buah (karena mengandung banyak serat) pada saat sahur. Ini juga akan membantu memperpanjang rasa kenyang.

* Hindari makanan yang terlalu manis, karena Anda akan cepat merasa lapar.

* Kebutuhan cairan harus terpenuhi, caranya dengan minum air atau jus buah antara waktu berbuka hingga waktu sahur.

Meskipun mengikuti ibadah puasa itu hal yang baik, namun ibu hamil harus memperhatikan kesehatannya juga. Jangan sampai memaksakan diri, dan malah berakibat buruk pada dirinya, karena pada intinya ajaran Agama juga memberikan “kelonggaran” bagi wanita hamil dalam menjalankan ibadah puasa.

Nah, ibu hamil yang memutuskan untuk berpuasa, perlu juga mengetahui tanda-tanda yang merupakan “alarm” atau peringatan bagi kesehatannya (pertimbangkan untuk menghentikan aktivitas puasa), antara lain:

* Merasakan perubahan signifikan pada gerakan janin, terutama ketika janin jarang atau tidak terasa gerakannya. Segera hubungi dokter atau bidan Anda jika hal ini terjadi.

* Terjadi kontraksi sebelum waktunya, ini bisa merupakan tanda terjadinya persalinan prematur.

* Jika Anda mengalami pusing, lemah, atau demam, Anda disarankan untuk menghubungi dokter Anda, untuk memutuskan apakah sebaiknya Anda perlu menghentikan puasa.

* Jika urin Anda terlalu gelap (kecoklatan) dan berbau menyengat, itu bisa merupakan pertanda bahwa Anda mengalami dehidrasi (kekurangan cairan).

Jadi sebagai kesimpulan, keputusan untuk berpuasa di saat hamil adalah murni hak setiap wanita hamil. Namun lebih dari makna ibadah, tentunya pertimbangan akan kesehatan ibu dan janin perlu menjadi perhatian yang penting.
Selalu berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter Anda, agar Anda dapat mendapat manfaat yang baik, menjalankan ibadah di bulan suci, tanpa mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan Anda.

| edit post


Menurut Anda, pekerjaan jenis apa yang paling bikin stres? Polisi, guru, dokter atau apa? Sebuah survei pun dilakukan untuk mengetahui pekerjaan seperti apa yang membuat seseorang kelelahan.

Tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan, tapi seberapa besar tingkat kelelahannya itulah yang menentukan seberapa besar seseorang berisiko terkena stres.

Sebuah survei yang dilakukan oleh para psikolog bisnis pun menyebutkan bahwa pekerjaan yang paling membuat stres adalah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan publik.

Dilansir dari Health24, Jumat (28/8/2009), sebanyak 25.000 pekerja Inggris dengan 26 jenis pekerjaan yang berbeda melakukan poling mengenai seberapa tinggi tingkat stres mereka dalam menghadapi pekerjaannya masing-masing.

Dari survei tersebut diketahui pula bahwa para karyawan yang melakukan kontak langsung dengan masyarakat atau publik memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding para atasan atau bosnya.

Adapun jenis pekerjaan yang paling berat, melelahkan dan memicu stres versi poling tersebut adalah para tenaga medis (dokter, suster, bidan, dsb), diikuti dengan guru dan pekerja sosial.

Berbeda dengan para bawahan dan karyawannya, para bos dan atasan justru cenderung menikmati pekerjaannya, memiliki tingkat kesehatan yang baik, kepuasan kerja, dan memiliki level stres yang lebih rendah.

Namun apapun jenis pekerjaan Anda, asalkan dikerjakan dengan ikhlas dan sabar, pasti tidak akan terasa berat. Anggaplah bekerja sebagai ladang amal dan beribadah, maka Anda pun akan merasa lebih senang tanpa merasa terbebani atau stres.

| edit post

Pria betah di Rumah Akibat Kadar Testosteron Turun

Posted by wiby Wednesday, August 26, 2009 0 comments

Ketika seorang pria lebih betah tinggal di rumah untuk merawat istri dan anak-anaknya dan mengurangi pergi minum dengan teman-temannya ataupun mengejar wanita lain, bisa jadi itu karena kadar testosteronnya mulai turun.

Mungkin seorang pria tidak akan menyangka bahwa kadar hormon testosteronnya akan berkurang setelah dirinya menikah, dan bahkan kadarnya akan turun secara signifikan setelah dirinya memiliki anak.

Pria yang telah menikah, tidak peduli apakah sudah menjadi ayah atau belum kadar hormon testosteronnya akan berkurang dibandingkan saat dirinya belum menikah.

Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim dari Harvard University mengenai bagaimana hormon bisa berubah ketika pria menikah dan menjadi ayah. Mungkin ini sebuah implikasi menuju menopause pada pria.

Peneliti telah menduga bahwa kadar hormon testosteron yang bertanggung jawab besar dalam hal berkelahi dan bersaing akan menurun ketika seorang pria memutuskan untuk menetap dan memulai sebuah keluarga. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa testosteron mulai menurun tak lama setelah menikah, tapi akan melonjak kembali ketika terjadi perceraian.

"Hal ini cukup masuk akal, ketika seorang pria kadar testosteronnya turun akan membuat dirinya lebih betah tinggal di rumah untuk merawat istri dan anak-anaknya, serta mengurangi kemungkinan pergi minum dengan teman-temannya ataupun mengejar wanita lain," ujar Peter Ellison, seorang profesor dari Harvard University, seperti dikutip dari News.harvard, Kamis (27/8/2009).

Penelitian ini melibatkan 58 pria yang berusia 20 tahun sampai 41 tahun dengan kategori belum menikah, sudah menikah tapi belum memiliki anak serta sudah menikah dan memiliki anak. Ternyata didapatkan kadar hormon yang tidak jauh berbeda antara pria yang sudah menikah dan memiliki anak dengan yang belum memiliki anak, tapi terdapat perbedaan yang signifikan dengan pria yang belum menikah.

Hasil ini menunjukkan bahwa kadar testosteron juga terlibat dalam proses pernikahan dan mengasuh anak. Saat belum menikah seorang pria lebih sering pergi keluar bersama teman-temannya, namun ketika sudah menikah pria akan lebih suka untuk tetap tinggal dirumah.

Selain itu, juga terdapat perbedaan kadar hormon testosteron pada pria di negara maju dengan negara berkembang. Pria di negara maju memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang, ini karena didukung oleh makanan yang lebih bergizi dan lingkungan yang lebih sehat sehingga pertumbuhan dan perkembangannya lebih cepat.

"Perbedaan ini membuktikan bahwa kondisi sosial dan ekologi memberikan pengaruh yang kuat dalam hal produksi hormon seseorang," ujar Ellison.

Laki-laki tidak mengalami menopause seperti kaum perempuan, karena hormon testosteron seseorang akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia, tapi tidak sampai berakhir. Bagi pria yang tinggal di negara maju penurunan testosteronnya lebih besar karena jumlah awalnya sudah tinggi.

Karena kadar testosteronnya yang berkurang sejak menikah bahkan hingga punya anak, maka pria yang sudah menikah cenderung lebih suka berada di rumah dan lebih mengutamakan keluarga serta lebih setia.

| edit post

Sering Menguap Pertanda Apa?

Posted by wiby Monday, August 24, 2009 0 comments


Melihat orang menguap saat sedang rapat mungkin kita berpikiran dia sedang bosan. Ternyata menguap itu sinyal dari tubuh mulai dari yang biasa hingga masalah serius.

Seperti dikatakan Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan yang dikutip dari tulisannya Body Sign, How to Be Your Own Diagnostic Detective, Selasa (25/8/2009) orang-orang menguap untuk berbagai macam alasan, tapi menguap juga tidak selalu berarti mengantuk.

Ilmuwan percaya menguap dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di dalam otak sedang menurun yang bisa membuat seseorang sulit konsentrasi.

Namun ilmuwan lain beranggapan menguap justru membantu mengatur suhu tubuh. Dengan menguap maka terjadi proses menaikkan tekanan darah dan laju jantung.

Umumnya menguap adalah aktivitas yang tidak berbahaya atau malah sekedar tanda seseorang sedang bosan. Tapi menguap juga bisa pertanda ada suatu kondisi medis yang serius.

Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti penyakit Multiple Sclerosis dan Amyotropic Lateral Sclerosis (ASL) menguap lebih banyak dari orang normal.

Orang yang memiliki penyakit darah rendah dengan tekanan darah 90/60 mmHg juga cenderung sering menguap yang diikuti pula dengan mengantuk. Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg. Selain sering menguap orang yang memiliki tekanan darah rendah juga sering pusing, cepat lelah dan penglihatan kabur.

Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa dari jantung dan jika darah yang dipompa oleh jantung semakin sedikit maka semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dalam darah sehingga membuat seseorang sering menguap, pusing dan lelah.

Kadang-kadang banyak menguap juga akibat reaksi dari terapi radiasi untuk kanker dan juga konsumsi obat-obatan seperti untuk pengobatan penyakit parkinson.

Beberapa antidepresan seperti paroxetine (Paxil) dan setraline (Zoloft) juga bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik justru penderita skizofrenia (kelainan saraf) adalah orang yang jarang menguap.

Fakta penting lagi, hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu.

Uniknya beberapa pasien di luar negeri mengaku bahwa setiap kali mereka menguap mereka seperti mengalami orgasme spontan. Seorang perempuan bahkan menjadi sangat mahir merasakan orgasme dengan menguap.

| edit post


Setelah berpuasa seharian, saat berbuka pun menjadi waktu yang sangat dinanti. Menu camilan gorengan biasanya menjadi hidangan yang dipilih setelah menyantap yang manis-manis. Tapi sebaiknya jangan buka puasa dengan gorengan. Mengapa?

Selain karena gorengan adalah makanan yang tidak sehat untuk tubuh, gorengan membawa efek yang tidak baik untuk saluran tenggorokan dan juga saluran pencernaan, terutama mereka yang seharian mengosongkan perutnya.

Makanan yang tinggi lemak akan membuat seseorang rentan terserang batuk dan memperlambat pengosongan lambung. Lemak akan merangsang tenggorokan dan membuatnya gatal sehingga mudah terserang batuk.

Selain itu, dengan adanya lemak, lambung akan cepat terisi tapi lebih lambat dicerna, alhasil seseorang akan merasa sudah kenyang dan tidak akan cepat lapar padahal baru makan dalam porsi sedikit.

Hal ini sebenarnya tidak baik untuk orang yang baru berbuka puasa. Karena setelah 14 jam lambung kosong, tubuh butuh nutrisi yang cukup, tapi dengan adanya lemak tubuh akan merasa sudah kenyang dan akhirnya penyerapan nutrisi pun terhambat karena hanya sedikit nutrisi lainnya yang masuk dalam tubuh.

Selain gorengan, pola berbuka puasa pun sebaiknya diperhatikan karena banyak masyarakat yang masih salah praktik. Mereka yang sudah berbuka dengan yang manis, langsung menyantap makanan besar karena saking laparnya.

Padahal menurut ahli gizi klinik, dr. Fiastuti Witjaksono, M.S SpGK sebaiknya perut perlu persiapan untuk bisa menerima makanan dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru.

"Bagusnya makan besar setelah salat Magrib dulu, karena itu akan membantu mempersiapkan saluran pencernaan menghadapi makanan dalam jumlah besar setelah 14 jam kosong," ujar Fiastuti.

Selain karena memicu perasaan yang tidak nyaman di perut, langsung menyantap makan besar setelah waktu berbuka juga tidak baik untuk penderita maag karena lambungnya akan mengalami shock.

Prinsip berbuka menurut Fiastuti, hendaknya berbuka dengan yang manis untuk mengganti glukosa darah, makanlah sesuai porsi tubuh dan juga harus lengkap gizinya tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.

"Prinsipnya kan hanya menggeser waktu makan saja, jadi tidak ada yang berubah, yang penting seimbang," ujar dokter yang memiliki menu favorit berbuka puasa dengan setup buah itu. Selamat berbuka puasa.

| edit post

Bingungnya menjawap Pertanyaan Anak

Posted by wiby Thursday, August 20, 2009 0 comments


Saat anak sudah mulai bisa berbicara, maka akan banyak keluar pertanyaan yang mungkin bisa membuat orang tua menjadi bingung. Kadang sang anak tidak berhenti bertanya sampai orang tua tidak bisa menjawab pertanyaannya lagi.

Berdasarkan hasil survei science campaign, didapatkan bahwa pertanyaan anak-anak yang diajukan kepada orang tua umumnya membingungkan dan sulit untuk dijawab, seperti "Dari mana bayi berasal?" pertanyaan ini sebesar 60 persen, "Bagaimana bisa terjadi pelangi?" pertanyaan ini sebesar 43 persen dan "Mengapa langit berwarna biru?" pertanyaan ini sebesar 30 persen.

Anak yang sering bertanya atau kritis memang lebih baik dibandingkan dengan anak yang hanya diam saja, karena jika sang anak tidak pernah bertanya justru itu yang patut untuk dicurigai ada apa dengan sang anak.

Empat dari lima orang tua mengatakan bahwa sering sekali merasa tidak bisa menjawab atau merasa buntu dalam menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sang anak yang bersifat ilmiah, dan keempat orang tua tersebut merasa malu dengan anaknya ketika tidak bisa menjawab, seperti dikutip dari Askamum, Jumat (21/8/2009).

Lebih dari setengah orang tua yang disurvei mengatakan bahwa anaknya mengetahui lebih banyak tentang segala sesuatu yang bersifat ilmiah dibanding dengan dirinya, sekitar 9 persen pertanyaan seputar ilmiah tersebut biasanya dijawab oleh sang ayah. Sementara sang ibu lebih suka mengatakan "Akan ibu jawab nanti" untuk merespons pertanyaan anak dan berharap sang anak akan lupa dengan pertanyaan tersebut.

Survei yang dilakukan oleh The Science (So what? So everything?) campaign, ternyata juga menemukan bahwa hampir 30 persen orang tua berusaha untuk membohongi sang anak, dan ibu tiga kali lebih sering melakukannya dibandingkan sang ayah.

Sebaiknya orang tua tidak membohongi atau memarahi sang anak apabila terus menerus bertanya tentang segala hal, karena memang ada saatnya anak memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang segala hal yang terjadi disekitarnya. Jika orang tua memarahi, maka anak akan takut untuk bertanya kembali tentang hal yang ingin diketahuinya dan ini akan membuatnya menjadi anak yang tidak kritis lagi.

Jika orang tua tidak bisa menjawabnya, jawablah dengan jujur bahwa orang tua belum menemukan jawabannya, dan berusahalah untuk mencari tahu apa jawaban dari pertanyaan sang anak tersebut. Karena anak akan merasa lebih senang jika mendapat jawaban langsung dari orang tuanya.

| edit post

Mengingat Mimpi Bisa Tingkatkan Kreativitas

Posted by wiby Wednesday, August 19, 2009 0 comments


Pernahkah Anda bermimpi tapi samar-samar terlihat dan tidak begitu mengingatnya setelah terbangun? Atau mungkin Anda termasuk orang yang mengingat dengan jelas mimpi yang baru saja dilihat? Jelas atau tidaknya mimpi ternyata ada kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam berbagai hal.

Mimpi terdiri dari tingkatan dan jenis yang berbeda-beda. Dalam hirarki mimpi, lucid dream atau mimpi yang jelas berada pada level tertinggi sebuah mimpi.

Studi baru-baru ini menyebutkan bahwa mimpi yang jelas dapat membantu meningkatkan keahlian memecahkan masalah, kreativitas, mengatasi rasa takut, meningkatkan percaya diri. Para pemimpi itu pun bahkan dilaporkan bisa mengalami pengalaman orgasme selama tidurnya.

Dikutip dari Huffingtonepost, Rabu (19/8/2009), para ahli dan peneliti mimpi di New York menyebutkan bahwa mimpi jenis itu juga bisa meningkatkan kesadaran dan menangani stres atau konflik dalam hidupnya.

Tidak hanya mimpi di malam hari, Sara Mednick, seorang psikolog dari UC San Diego dan juga pengarang 'Take a Nap, Change Your Life' mengatakan bahwa tidur siang yang bermimpi akan membuat seseorang lebih kreatif dan meningkatkan kemampuannya dalam mencari solusi.

Menurut Sara, pria ternyata lebih sering mendapatkan mimpi yang jelas ketimbang wanita. Hal ini dikarenakan pria memiliki kemampuan mengontrol dengan baik dan juga kemampuan memulai sesuatu yang lebih baik daripada wanita.

Seorang peneliti mimpi, Ryan Hurd pun mengaku dirinya sering mendapatkan mimpi yang jelas dan menyebutkan bahwa memaknai suatu mimpi bisa meningkatkan kemampuannya terutama dalam pekerjaan, hubungan percintaan dan mengasah kreativitas.

Sebuah mimpi akan terlihat sangat nyata dan jelas ketika seseorang fokus pada sesuatu yang memang menjadi perhatiannya saat itu. Dari mimpi, seseorang sebenarnya bisa mendapat pelajaran atau bahkan suatu ide cemerlang.

Mereka yang mengingat mimpinya dengan jelas kemudian akan menerapkan ide atau pelajaran yang didapatnya dari mimpi tersebut ke dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga ia akan lebih kreatif dan cerdas.

Pria dan wanita sebenarnya bisa menggunakan mimpi untuk meningkatkan kemampuan emosi dan intelegensinya. Belajar dari mimpi akan membuat seseorang sukses dalam karir, olahraga, dan lain-lain.

Menariknya, bermain video game ternyata bisa meningkatkan kemampuan bermimpi seseorang. Meskipun bermain video game tidak terlalu baik untuk kesehatan, tapi psikolog mimpi, Jayne Gackenbach mengatakan sesekali tidak ada salahnya.

Menurut Jayne, bermimpi seperti sebuah permainan berkemah dan training dunia maya yang dilengkapi dengan fantasi. Jadi teruslah bermimpi dan tingkatkan kreativitasmu.

| edit post

Ngorok Meningkatkan Resiko Kematian?

Posted by wiby Tuesday, August 18, 2009 0 comments


Jika Anda memiliki gangguan tidur yang parah, sebaiknya segera menemukan cara mengatasinya. Karena peneliti di Amerika Serikat mengatakan gangguan tidur yang parah ternyata bisa meningkatkan risiko meninggal lebih cepat hingga 46 persen.

Peneliti mengatakan orang yang memiliki masalah dengan pernafasan yang parah selama tidur lebih tinggi risiko meninggal mudanya dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan tidur.

"Orang yang sering ditemui berisiko ini adalah laki-laki usia 40 sampai 70 tahun," ujar Naresh Punjabi dan tim dari Johns Hopkins University di Baltimore, seperti dikutip Reuters, Rabu (19/8/2009).

Gangguan tidur biasanya disebabkan oleh terhalangnya saluran udara bagian atas selama tidur, mendengkur yang keras bisa menjadi salah satu gejalanya. Gangguan tidur sangat dekat hubungannya dengan obesitas, tekanan darah tinggi, gagal jantung dan stroke.

Naresh Punjabi dan tim meneliti 6.400 laki-laki dan peremuan selama kurang lebih 8 tahun. Dan ditemukan orang yang memiliki gangguan tidur parah lebih berisiko meninggal muda tanpa memandang usia, jenis kelamin, berat badan dan merokok atau tidak, seperti dilaporkan dalam Public Library of Science journal PLoS Medicine.

"Pada laki-laki 42,9 persen tidak memiliki gangguan bernapas saat tidur, 33,2 persen memiliki gangguan tidur sedang dan 8,2 persen memiliki gangguan tidur yang sangat parah," ujar Naresh Punjabi.

Sementara itu untuk perempuan, 25 persen memiliki gangguan tidur yang sedang dan 3 persen memiliki gangguan tidur yang sangat parah. Peneliti yang dibiayai oleh National Heart, Lung, and Blood Institute of the National Institutes of Health mengatakan orang yang memiliki gangguan tidur sedang tidak masuk dalam kelompok ini.

"Pada pasien dengan gangguan tidur yang parah saluran udaranya terhalang yang membuat pasien akan menderita selama 20 sampai 30 detik hingga terbangun, jika hal ini sering terjadi atau sekitar setiap 2 menit sekali maka itu sudah termasuk gangguan tidur yang parah dan bisa menjadi masalah yang besar," ujar Dr. David Rapoport dari New York University.

Rapoport mengatakan bahwa perawatan yang terbaik adalah dengan mengurangi berat badan. Namun, perawatan yang paling banyak berhasil adalah dengan masker CPAP (continuous positive airway pressure) melalui hidung yang mengaplikasikan tekanan untuk tetap menjaga saluran udara pasien tetap terbuka saat tidur, seperti bernapas dengan normal. Perawatan lain yang bisa membantu adalah dengan melakukan operasi, termasuk dengan memindahkan letak amandel.

Jadi, jika Anda termasuk salah satu orang yang memiliki gangguan tidur yang parah. Segeralah konsultasikan dengan dokter untuk bisa ditangani dengan benar dan menghindari risiko yang tidak diinginkan.

| edit post


Wanita adalah makhluk yang sensitif dan gampang menangis. Menangis bisa baik untuk kesehatan tapi juga bisa berakibat buruk. Namun pernahkah Anda menghitung berapa jam waktu yang dihabiskan wanita untuk menangis? Sebuah poling pun dilakukan untuk mengetahuinya.

Berdasarkan suatu survei, para peneliti menemukan bahwa antara usia kelahiran hingga usia 78 tahun, wanita menangis kira-kira sebanyak 12.000 jam. Hal ini didasari oleh poling terhadap 3.000 wanita yang dilakukan oleh TheBabyWebsite.

Jika dari usia 0-78 tahun wanita menangis 12.000 jam, artinya kira-kira sebanyak 1 tahun 4 bulan dalam hidupnya hanya diisi dengan menangis.

Pada tahun-tahun pertama dalam hidupnya, seseorang akan menangis sekitar 3 jam sehari ketika mereka butuh diberi makan, ganti popok dan butuh hiburan.

Ketika memasuki usia remaja, perempuan menangis kira-kira 2 jam dalam seminggu. Begitu juga halnya wanita usia 20-an, yang menangis sebanyak 2 jam dalam seminggunya. Kebanyakan karena masalah pasangan, melihat film sedih dan kehilangan orang yang dicintai.

Dikutip dari Telegraph, Selasa (18/8/2009), Kathryn Crawford dari TheBabyWebsite menjelaskan beberapa alasan yang membuat seorang wanita menangis.

"Ketika masih kecil, anak perempuan biasanya menangis karena kecelakaan. Hal ini sangat wajar mengingat anak kecil sangat rawan terluka karena seringnya berlarian dan mencoba hal-hal baru." ujar Kathryn.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, secara alami mereka akan mencoba lebih dan lebih, hal ini bisa memicu tingkat kecelakaan lebih lagi. Alasan utama mereka menangis pun diantaranya terjatuh, melukai dirinya sendiri, merasa kelelahan dan dimarahi orang tua.

Ketika beranjak remaja, perempuan lebih sering menangis karena bertengkar dengan teman-temannya, merasa disisihkan dan dilecehkan.

Sementara untuk usia 19-25 tahun, wanita juga menangis rata-rata selama 2 jam disebabkan karena melihat film, hubungan dengan pasangan, ditinggal seseorang yang disayang, dan sisanya tanpa alasan yang jelas.

Poling itu juga mencatat bahwa pada usia 26 tahun ke atas, wanita lebih banyak menangis karena terbakar emosi, gagal dengan pasangan, kelelahan dan mendengar kabar buruk.

Berikut ini 5 alasan utama perempuan menangis dalam hidupnya berdasarkan kategori usia, berdasarkan poling yang dilakukan oleh TheBabyWebsite.

Usia 0-1 Tahun: Lapar, lelah, tidak nyaman, sakit, suatu bentuk komunikasi dengan ibunya
Usia 1-3 Tahun: Melukai diri sendiri, lelah, terjatuh, menginginkan sesuatu, dibilang nakal oleh orang tuanya
Usia 4-12 Tahun: Berantem dengan teman, dibilang nakal, melukai diri sendiri, sakit, lelah
Usia 13-18 Tahun: Masalah hormon, berdebat denagn teman, merasa dicampakkan, dilecehkan, merasa kurang ideal
Usia 19-25 Tahun: Menonton film sedih, dicampakkan, kehilangan orang tersayang, memiliki anak, diambangkan hubungannya
Usia 26 Tahun ke atas: Gagal dengan pasangan, kehilangan orang yang dikasihi, menonton film sedih, kecapaian, mendengar kabar buruk

Poling tersebut hanya ingin mengetahui seberapa sering seorang wanita menangis dan apa saja alasannya. Jadi, percaya atau tidak terserah Anda.

| edit post

Beda Hamil Usia 20,30 dan 50-an Tahun

Posted by wiby Monday, August 17, 2009 0 comments

Apakah ada usia yang sempurna untuk hamil? Kebanyakan orang pasti akan mengatakan usia 20-an tahun. Tapi jangan salah, dalam beberapa kasus usia lebih muda tidak selalu lebih baik.

Tren perempuan hamil saat ini semakin menuju di usia yang matang. Jika tahun 1975 perempuan yang hamil di usia 30-an tahun hanya sebanyak 5%, di tahun 1999 jumlahnya naik menjadi 23%. Sedangkan saat ini perempuan melahirkan di usia 35-49 tahun jumlahnya melonjak tiga kali lipat sejak tahun 1970-an.

Meski sudah sering mendengar risiko kehamilan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun nampaknya peringatan tersebut tidak selalu dibutuhkan. Berapa pun usianya, perempuan bisa hamil sepanjang tubuhnya sehat.

Berikut ini beberapa perbedan jika perempuan hamil di usia 20-an, 30-an dan 40-an tahun.

Hamil usia 20-an tahun
Wanita sehat di usia ini biasanya lebih mudah untuk hamil. Jadi tidak mengherankan di usia ini mereka banyak memiliki anak. Mereka biasanya langsung mengandung setelah dua bulan bersenggama dan hanya memiliki risiko keguguran yang rendah sekitar 10% dan sedikit mengalami komplikasi selama kehamilan.

Melahirkan anak di usia ini juga kecil terkena risiko Down Syndrome atau kromosom cacat dan jarang melahirkan melalui caesar.

Namun dalam beberapa kasus, melahirkan di usia lebih muda tidak selalu lebih baik. Wanita usia 20-24 tahun memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi terkena preeclampsia yakni gejala tekanan darah, pembengkakan yang tak kunjung sembuh dan tingginya jumlah protein di urin.

Kondisi preeclampsia di usia 20-24 tahun ini lebih tinggi ketimbang perempuan yang hamil di usia pertengahan 20-an tahun hingga awal 30-an tahun. Hal ini disebabkan karena perempuan di usia awal 20-an tahun biasanya melahirkan untuk anak pertama yang sangat tergantung dengan gaya hidupnya. Para dokter sendiri masih tidak yakin kenapa sebagian perempuan ini mengalami preeclampsia yang bahkan bisa jadi serius dan bisa mengakibatkan melambatnya pertumbuhan janin.

Perempuan di usia awal 20-an juga punya peluang lebih besar dibanding usia akhir 20-an tahun dan awal 30-an tahun mendapatkan bayi dengan berat yang rendah karena kebiasaan yang buruk.

Contohnya perempuan usia 20-24 tahun lebih banyak yang merokok ketimbang perempuandi usia 25 tahun ke atas dan rokok adalah pemicu rendahnya bobot bayi. Perempuan muda juga melakukan diet yang salah, telat melakukan perawatan sebelum melahirkan sehingga memicu risiko bayi lahir dengan bobot rendah.

Bayi lahir dengan bobot rendah memiliki risiko lebih besar terhadap masalah kesehatan ke depannya atau mengalami masalah kecacatan seumur hidupnya.

Namun Anda bisa mengurangi risiko ini dengan cara yang sederhana yakni makanlan dengan baik, minuman vitamin komplit dan melakukan perawatan sebelum melahirkan.

Hamil usia 30-an Tahun
Banyak perempuan menunggu usia ini sebagai usia yang ideal untuk mendapatkan anak karena merasa lebih percaya diri dan memiliki jaminan finansial. Jika Anda hamil di awal usia 30-an tahun memang sedikit berbeda dengan perempuan usia 20-an tahun. Namun hamil di usia ini sebenarnya tidak memiliki kesulitan. Hanya masalah selur telur saja yang berkurang karena kesuburan perempuan cenderung menurun setelah usia 30-an tahun dan ada risiko melahirkan anak Down Syndrom atau cacat kromosom.

Anda mungkin sudah sering mendengar usia 35 tahun adalah patokan usia untuk hamil dan terjadinya penurunan kesuburan. Meski banyak perempuan di usia ini yang sehat namun penelitian menunjukkan bahwa perempuan usia ini memiliki masalah sepanjang kehamilannya.

Pertama masalah berkurangnya kesuburan yang menurun lebih cepat setelah usia 35 tahun sehingga sulit untuk mengandung. Data American Society for Reproductive Medicine, sepertiga perempuan usia 35 tahun mengalamai masalah kesuburan. Jika Anda sedang program hamil di usia 35 tahun tapi selama 6 enam bulan belum juga ada hasilnya sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter. Karena banyak pula masalah kesuburan yang bisa dirawat.

Perempuan dalam kelompok usia ini juga lebih mungkin mengalami keguguran dibanding wanita muda. Bahkan, sebuah studi baru-baru ini di Denmark menemukan bahwa lebih dari 20 persen wanita hamil usia 35-39 tahun mengalami keguguran.

Jika Anda usia 35 tahun atau lebih, Anda mungkin akan mendapatkan perawatan amniocentesis, tes yang digunakan untuk mendiagnosa Down syndrome dan kecacatan kromosom.

Perempuan hamil di atas usia 35 tahun juga cenderung memiliki masalah seperti preeclampsia, diabetes, kelahiran prematur, dan berat bayi yang rendah, serta masalah placental selama kehamilan. Yang paling umum ini adalah placenta previa. Kondisi ini dapat mengakibatkan pendarahan parah, tetapi komplikasi biasanya dapat dicegah dengan operasi caesar. Untungnya, sebagian besar masalah ini dapat diatasi dengan pengobatan dan perawatan yang baik sebelum melahirkan.

Hamil di usia 40-an tahunMelahirkan anak pertama di usia 40-an tahun saat ini sudah tidak biasa karena sulit dilakukan. Lebih dari 50 persen perempuan di usia ini akan mengalami kesulitan hamil. Risiko perempuan yang hamil di usia 40-an tahun sama seperti perempuan yang hamil di usia akhir 30-an tahun. Ada dua risiko yang besar ketika hamil di usia ini yakni cacat kromosom termasuk di dalamnya Down Syndrome dan keguguran. Rasionya satu dari 100 kehamilan di usia 40-an tahun dan 1 dari 30 orang di usia 45 tahun melahirkan anak Down syndrome. Sedangkan rasio keguguran yang terjadi mencapai 50 persen di usia 42 tahun. Perempuan pada usia ini juga hampir tiga kali lebih besar mengalami diabetes selama kehamilan dibanding perempuan yang hamil di usia 20-an tahun. Anda mungkin juga memiliki lebih banyak masalah selama kehamilan seperti fetal distress.

| edit post

welcome

Posted by wiby Friday, August 14, 2009 0 comments

welcome to my blog

| edit post

Tip Sehat Hari Ini

There was an error in this gadget

Ruang Tamu


ShoutMix chat widget
There was an error in this gadget

Promosi Blog